Selasa, 05 Juli 2011

FAKTOR PENYEBAB MENYONTEK

Menyontek.... virus ini sering menjangkiti siswa-siswi terutama pada saat musim ujian, sebenarnya mengapa sih mereka menyontek?

1. Ingin nilai yang baik dengan cara yang “instan”

Tanpa susah-susah belajar tapi mendapatkan nilai yang baik!!! Wow….inilah yang sering diinginkan siswa yang gemar menyontek, mereka menganggap buat apa repot-repot belajar, toh nanti belum tentu mendapatkan nilai yang baik, kalau bisa “belajarnya pas waktu ujian aja…”

2. Ingin dikatakan “hebat”

Buat apa mencotek jika hanya ingin dikatakan “hebat”. Mungkin orang lain tahu bahwa dia memang hebat, pintar tetapi dia tidak bisa membohongi hati nuraninya bahwa dia seorang pecundang.

3. Malas belajar

Mereka inilah yang sangat gemar copy-paste pekerjaan temannya. Mereka tidak mau tahu usaha yang telah dilakukan temannya dalam mengerjakan tugas maupun ujian. Yang penting pekerjaan mereka beres dan lulus ujian tanpa harus belajar.

4. Tuntutan dari orang tua

Orang tua menginginkan jurusan yang mereka anggap “keren,”, tetapi putra-putri mereka tidak mempunyai kemampuan dan minat untuk masuk jurusan tersebut sehingga demi membahagiakan orang tua, mereka menggunakan cara-cara yang instan untuk mendapatkan nilai yang baik.

Hasil memanglah penting, tetapi sebuah proses jauh lebih penting. Belajar adalah suatu proses. Proses yang awalnya tidak tahu menjadi tahu, proses yang awalnya kurang baik menjadi baik. Belajar adalah proses mendapatkan ilmu dan menuntut ilmu adalah kewajiban bagi muslim-muslimah, karena "dengan ilmu kita akan menjadi lebih baik, dengan ilmu kita akan terjaga, dengan ilmu kita akan menjadi mulia."

So, what would you choose ?


Senin, 23 Mei 2011

WAKTU (Berdialog dengan "Satu Detik")

Pada suatu hari aku duduk dan menghadapkan hati ini kehadirat Allah SWT, sambil menyesali rentang usia yang ku lalui. Kupanggil satu detik dari waktu hidupku. Aku katakan kepadanya :

* Aku harap engkau mau kembali kepadaku, agar aku dapat menggunakanmu untuk berbuat kebajikan
  • Sesungguhnya tidak ada waktu yang mau berkompromi untuk berhenti
* Wahai detik, aku mohon..., kembalilah kepadaku agar aku dapat memanfaatkanmu dan mengisi kekuranganku pada dirimu.
  • Bagaimana aku dapat kembali padamu, padahal aku telah tertutup oleh perbuatan-perbuatanmu ?
* Cobalah lakukan hal yang mustahil itu dan kembalilah kepadaku! betapa banyak detik-detik selainmu yang juga ku sia-siakan

  • Seandainya kekuasaan ada di tanganku, pastilah aku akan kembali kepadamu, namun tiada kehidupan bagiku, dan itu terlipat oleh lembaran-lembaran amalmu dan diserahkan kepada Allah SWT
* Apakah mustahil, jika engkau kembali kepadaku, padahal engkau sedang berbicara kepadaku?
  • Sesungguhnya detik-detik dalam kehidupan manusia ada yang dapat menjadi kawan setianya dan adakalanya ia menjadi musuh terbesarnya. Aku adalah termasuk detik-detik yang menjadi musuh besarnya. Aku adalah detik-detik yang menjadi musuhmu dan yang menjadi saksi atasmu di hari kiamat kelak. Mungkinkah akan bertemu dua orang yang saling bermusuhan?
* Alangkah menyesalnya aku yang sering menyia-nyiakan detik-detik dalam hidup ini, tetapi sekali lagi kumohon agar engkau sudi kembali kepadaku, niscaya aku akan beramal sholeh "didalammu" yang pernah kutinggalkan.

Maka detik itupun terdiam, tidak mengeluarkan sepatah katapun. Akupun lantas memanggilnya :
* Wahai detik, tidaklah engkau dengar panggilanku? kumohon jawablah....
  • Wahai orang yang lalai akan dirinya, wahai orang yang menyia-nyiakan waktunya.... Tahukah engkau, saat ini, demi mengembalikan satu detik saja, sesungguhnya engkau telah menyia-nyiakan beberapa detik dari umurmu. Mungkinkan engkau dapat mengembalikan mereka? Namun aku hanya dapat berpesan kepadamu, "Sesungguhnya segala perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) segala perbuatan yang buruk"
Maka wahai sahabatku bersegeralah...., beramallah...., bersungguh-sungguhlah...., bertaqwalah kepada Allah SWT dimanapun engkau berada. Ikutilah perbuatan buruk itu dengan perbuatan baik, niscaya perbuatan baik itu akan menghapuskannya, dan bergaullah dengan sesama manusia dengan budi pekerti luhur!
(Jasiem M. Badr al-Muthawi', Efisiensi Waktu konsep Islam, Prolog)


Sabtu, 30 April 2011

AKHIR PEMIKIRAN IBU KARTINI

Di bulan April ini, masih melekat diingatan kita bahwa setiap tanggal 21 April rakyat Indonesia memperingati hari Kartini. Ada hal yang baru saya ketahui tentang Kartini dan saya mengharapkan teman-teman juga mengetahuinya....

Kartini dianggap sebagai pelopor perjuangan emansipasi di Indonesia. dan akhir-akhir ini namanya dihubung-hubungkan dengan kata feminisme.

Apa yang terlanjur lekat dengan sosok Kartini sebenarnya hanyalah sebagian proses hidupnya yang gelisah. Akhir proses kartini tak banyak terungkap. Pemikiran pada awal prosesnya-lah yang terlanjur lantang disuarakan sehingga lekat pada namanya. Padahal, menjelang akhirhayatnya, Pemikiran kartini telah banyak berubah.

KARTINI DULU
Tidak bisa disalahkan kalo ada orang yang beranggapan Kartini memperjuangkan emansipasi, mendobrak adat, dan berkiblat ke Barat, serta mengkritisi Islam. Pada awalnya, Kartini emang demikian. Inilah contoh surat-suratnya:

"...Orang kebanyakan meniru kebiasaan orang baik-baik, orang baik-baik itu meniru perbuatan orang yang lebih tinggi pula, dialah orang Eropa" [surat kepada Stella, 25 Mei 1899]

"Aku mau meneruskan pendidikan ke Holland, karena Holland akan menyiapkan aku lebih baik untuk tugas besar yang telah aku pilih."[surat kepada Ny Ovinksoer, 1900]

Tidak heran kalo Kartini punya pemikiran demikian. Gimana lagi? Teman surat-menyurat Kartini kebanyakan adalah orang barat yang hendakmembaratkan kaum ningrat di Indonesia, dimana tujuan akhirnya adalah agar mereka tidak melakukan perlawanan terhadap pemerintah Hindia Belanda pada jaman tersebut. Mari kita simak teman-teman korespodensi Kartini. siapa sajakah mereka..?.

1. J.H. Abendon
Abendon ditugaskan oleh Belanda sebagai Direktur Deptemen Pendidikan, Agama, dan Kerajinan. Abendon banyak meminta nasihat dari Snouck Hurgronye (seorang orientalis yang pura-pura masuk islam untuk mencari cara mematikan semangat jihad umat islam di Indonesia). Menurut Hurgronye, golongan yang paling keras menentang penjajah Belanda adalah golongan Islam. Memasukkan peradaban Barat dalam masyarakat pribumi adalah cara yang paling jitu untuk mengatasi pengaruh Islam. Tidak mungkin membaratkan rakyat, kecuali jika ningratnya telah dibaratkan.Untuk tujuan itu, langkah pertama yang harus diambil adalah mendekati kalangan ningrat terutama yang menganut agama Islam untuk kemudian dibaratkan. Dan Hurgronye menyarankan Abendanon untuk mendekati Kartini.

2. Stella (Estelle Zeehandelaar)
Seorang wanita Yahudi, anggota militan pergerakan feminis di negeri Belanda saat itu.

3. Nellie Van Kol (Ny. Van Kol)
Ia adalah seorang penulis yang mempunyai pendirian humanis dan progresif. Dialah orang yg paling berperan dalam mendangkalkan aqidah Kartini. Pada awalnya, ia bermaksud untuk memurtadkan Kartini dengan kedatangannya seolah-olah sebagai penolong yang mengangkat Kartini dari ketidakpeduliannya terhadap agama.

BERTEMU KYAI SHOLEH DARAT
Selain faktor teman buruk, kaum muslim di sekeliling Kartini juga punya pemahaman yang salah terhadap Islam. Mereka mengajarkan Islam tanpa memahamkan apa yang diajarkan. coba kita simak surat kartini kepada stella berikut ini.
"Bagaimana aku dapat mencintai agamaku kalau aku tidak mengerti dan tidak boleh memahaminya. Al Qur'an terlalu suci, tidak boleh diterjemahkan ke dalam bahasa apapun. Disini tidak ada yang mengerti bahasa Arab. Orang-orang disini belajar membaca Al Qur'an tapi tidak mengerti apa yang dibacanya. Kupikir, pekerjaan orang gilakah, orang diajar membaca tapi tidak mengerti apa yg dibacanya." [surat kepada Stella, 6 Nov 1899]


Perlu diketahui pada waktu pemerintahan Hindia Belanda umat muslim memang dibolehkan mengajarkan Al Qur'an dengan syarat nggak diterjemahin alias cuma belajar baca huruf arab (pengaruh ini masih dapat kita jumpai saat ini, dimana belajar Al-quran dianggap selesai ketika telah mampu membaca Al-quran dengan lancar sampai akhir walaupun tidak paham makna-nya -khataman-). Dan ini memang taktik belanda agar orang-orang Indonesia tidak paham terhadap Al-quran dan akhirnya mereka tidak akan angkat senjata kepada penjajah kafir belanda.

Suatu ketika Kartini berkunjung ke rumah pamannya, seorang Bupati Demak. Saat itu sedang berlangsung pengajian bulanan khusus untuk anggota keluarga. Kartini ikut mendengarkan pengajian bersama wanita lain dari balik tabir. Kartini tertarik kepada materi yg sedang diberikan, tafsir Al Fatihah, oleh Kyai Saleh Darat. Setelah selesai pengajian, Kartini mendesak pamannya agar bersedia untuk menemaninya menemui Kyai Sholeh Darat.

Kartini menceritakan bahwa selama hidupnya baru kali itulah dia sempat mengerti makna dan arti surat Al Fatihah, yang isinya begitu indah menggetarkan hati. Kemudian atas permintaan Kartini, Kyai Sholeh diminta menerjemahkan Al Qur'an dalam bahasa Jawa di dalam sebuah buku berjudul Faidhur Rahman Fit Tafsiril Quran jilid pertama yang terdiri dari 13juz, mulai surat Al Fatihah hingga surat Ibrahim. Buku itu dihadiahkan kepada Kartini saat dia (Kartini) menikah dengan R. M. Joyodiningrat, Bupati Rembang.

Kyai Sholeh meninggal saat baru menerjemahkan jilid pertama tersebut. Namun, Kartini hal ini sudah cukup membuka pikiran Kartini dalam mengenal Islam.

Tahu nggak? Sebenarnya ungkapan Habis Gelap Terbitlah Terang itu sebenarnya Kartini temukan dalam surat Al Baqarah ayat 257, yaitu firman Allah"...minazh-zhulumaati ilan-nuur" yang artinya "dari kegelapan-kegelapan (kekufuran) menuju cahaya (Islam)". Oleh Kartini diungkapkan dalam bahasa Belanda "Door Duisternis Tot Licht". dankemudian oleh Armien pane yang menerjemahkan kumpulan surat-surat Kartini diungkapkan menjadi "Habis Gelap Terbitlah Terang"

KARTINI KEMUDIAN
Kartini yang mulai mengenal islam pun berubah. Pandangannya terhadap Islam menjadi positif.
"Moga-moga kami mendapat rahmat, dapat bekerja membuat umat agama lain memandang agama Islam patut disukai" [surat kepada Ny. Van Kol, 21 Juli 1902].

Kartini kemudian merumuskan arti pentingnya pendidikan untuk wanita, bukan untuk menyaingi kaum laki-laki seperti yang diyakini oleh pejuang feminisme dan emansipasi saat ini (sebenarnya lebih cocok disebut sebagai westernisasi), namun agar para wanita lebih cakap menjalankan kewajibannya sebagai Ibu. Kartini menulis dalam suratnya:
"Kami disini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena kami yakin pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya: menjadi Ibu, pendidik manusia yang pertama-tama." [kepada Prof. Anton dan Nyonya, 4 Okt 1902]

Dan tidak hanya itu, pandangannya terhadap Barat pun berubah. Kartini menulis;
"Dan saya menjawab, Tidak ada Tuhan kecuali Allah. Kami mengatakan bahwa kami beriman kepada Allah dan kami tetap beriman kepada-Nya. Kami ingin mengabdi kepada Allah dan bukan kepada manusia. Jika sebaliknya tentulah kami sudah memuja orang dan bukan Allah" [kpd Ny. Abendanon, 12 Okt 1902]

"Sudah lewat masanya, tadinya kami mengira bahwa masyarakat Eropa itubenar-benar satu-satunya yang paling baik, tiada taranya. Maafkan kami,tetapi apakah Ibu sendiri menganggap masyarakat Eropa itu sempurna? Dapatkah Ibu menyangkal bahwa di balik hal yang indah dalam masyarakat Ibu, terdapat banyak hal-hal yang sama sekali tidak patut disebut sebagai peradaban?" [surat kepada Ny. Abendanon, 27 Okt 1902]

Kartini meninggal dalam usia muda 25 thn, empat hari setelah melahirkan putranya. Ia tak sempat belajar Islam lebih dalam. namun yang patut disayangkan kebanyakan orang mengetahui Ibu Kartini hanyalah sekedar pejuang emansipasi wanita. Banyak orang yang nggak tahu perjalanan Kartini menemukan Islam dan perubahan pola pikirnya.
Smoga tulisan ini dapat menggugah kita untuk tahu lebih dalam tentang IBU KITA KARTINI, daripada sekedar peringatan tahunan tampa makna.
(sumber : Kata-kata Hikmah)