Pada suatu hari aku duduk dan menghadapkan hati ini kehadirat Allah SWT, sambil menyesali rentang usia yang ku lalui. Kupanggil satu detik dari waktu hidupku. Aku katakan kepadanya :

* Aku harap engkau mau kembali kepadaku, agar aku dapat menggunakanmu untuk berbuat kebajikan
Maka detik itupun terdiam, tidak mengeluarkan sepatah katapun. Akupun lantas memanggilnya :
* Wahai detik, tidaklah engkau dengar panggilanku? kumohon jawablah....
(Jasiem M. Badr al-Muthawi', Efisiensi Waktu konsep Islam, Prolog)

* Aku harap engkau mau kembali kepadaku, agar aku dapat menggunakanmu untuk berbuat kebajikan
- Sesungguhnya tidak ada waktu yang mau berkompromi untuk berhenti
- Bagaimana aku dapat kembali padamu, padahal aku telah tertutup oleh perbuatan-perbuatanmu ?
- Seandainya kekuasaan ada di tanganku, pastilah aku akan kembali kepadamu, namun tiada kehidupan bagiku, dan itu terlipat oleh lembaran-lembaran amalmu dan diserahkan kepada Allah SWT
- Sesungguhnya detik-detik dalam kehidupan manusia ada yang dapat menjadi kawan setianya dan adakalanya ia menjadi musuh terbesarnya. Aku adalah termasuk detik-detik yang menjadi musuh besarnya. Aku adalah detik-detik yang menjadi musuhmu dan yang menjadi saksi atasmu di hari kiamat kelak. Mungkinkah akan bertemu dua orang yang saling bermusuhan?
Maka detik itupun terdiam, tidak mengeluarkan sepatah katapun. Akupun lantas memanggilnya :
* Wahai detik, tidaklah engkau dengar panggilanku? kumohon jawablah....
- Wahai orang yang lalai akan dirinya, wahai orang yang menyia-nyiakan waktunya.... Tahukah engkau, saat ini, demi mengembalikan satu detik saja, sesungguhnya engkau telah menyia-nyiakan beberapa detik dari umurmu. Mungkinkan engkau dapat mengembalikan mereka? Namun aku hanya dapat berpesan kepadamu, "Sesungguhnya segala perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) segala perbuatan yang buruk"
(Jasiem M. Badr al-Muthawi', Efisiensi Waktu konsep Islam, Prolog)
9:06 AM
4l-Andian
Posted in


